PEMBINAAN HUTAN 

Pengadaan Bibit 

Pengadaan bibit merupakan kegiatan yang meliputi penyiapan tempat pembibitan/persemaian, pengadaan sarana dan prasarana persemaian, kesiapan jumlah dan kualitas tenaga kerja di persemaian, serta kegiatan lain yang berhubungan dengan pengadaan bibit. Mengingat lokasi persemaian yang harus berdekatan dengan blok bekas tebangan, maka tipe persemaian yang dibangun oleh PT. DRT adalah tipe persemaian semi permanen yaitu persemaian yang menggunakan areal persemaian cukup luas (± 2.0 ha), namun dilengkapi dengan prasarana penunjang berupa barak untuk tempat tinggal tenaga harian, ruang administrasi persemaian,  pompa air untuk penyiraman, gudang, alat angkutan lori (robin), dan peralatan persemaian penunjang lainnya.

Pengadaan bibit dilakukan dengan cara generatif yaitu dengan biji  dan cabutan yang berasal dari pohon induk. Melalui serangkaian  pengamatan dan penelitian, saat ini PT. DRT memiliki areal tegakan benih yang masih aktif adalah seluas 200 ha.  Walaupun benih diambil dari tempat yang diyakini memiliki kualitas / mutu benih yang baik, namun PT. DRT masih melakukan seleksi kembali setelah benih menjadi bibit (sortir bibit).  Jenis-jenis yang mudah dilakukan pengadaan secara generatif diantaranya adalah jenis suntai, balam, durian burung, bintangur, meranti, ramin dan serapat.

Target bibit yang diproduksi di persemaian terkait dengan rencana penanaman di areal terbuka bekas TPn, bekas jalan rel, bekas jalan sarad, dan tanah kosong atau areal terbuka.  Jika setiap tahun areal terbuka untuk TPn seluas ± 12 ha; bekas jalan rel seluas ± 8 ha; bekas jalan sarad seluas ± 8 ha; dan tanah kosong atau areal terbuka seluas ± 11 ha,  maka bibit yang diperlukan sebanyak 22.015 bibit (jarak tanam pengayaan 5 m x 5 m, penanaman tanah kosong 4 m x 4 m dan kiri-kanan jalan rel 6 m x 3 m) atau sekitar 26.400 ditambah 20 % sulaman. Jenis anakan yang diprioritaskan untuk penanaman di tempat terbuka adalah jenis-jenis pohon pioner antara lain:

  1. Meranti rawa (Shorea uliginosa dan teysmanniana)
  2. Suntai (Palaquium dasyphyllum)
  3. Simpur (Dillenia excelsa)
  4. Durian Burung (Durio carinatus)
  5. Geronggang (Cratoxylon arborescens)
  6. Terentang (Camnosperma spp.)
  7. Punak (Tetramerista glabra)
  8. Balam (Palaquium obovatum)
  9. Ramin (Gonystylus bancanus)

Jenis-jenis pohon yang berbuah setiap tahun dengan produksi bibit melimpah pembuatan persemaian dapat dilakukan dengan cabutan.

Adapun rencana pengadaan bibit untuk tahun 2019 sampai dengan 2028 adalah sebagai berikut :

No. Tahun Pelaksanaan Kode Blok RKT Tahun RKT Jumlah bibit Ket.
1 2019 I 2020 26.400
2 2020 II 2021 26.400
3 2021 III 2022 26.400
4 2022 IV 2023 26.400
5 2023 V 2024 26.400
6 2024 VI 2025 26.400
7 2025 VII 2026 26.400
8 2026 VIII 2027 26.400
9 2027 IX 2028 26.400
10 2028 X 2029 26.400
Jumlah 264.000
Keterangan :
  • Luas penanaman 39 ha (eks TPn 12 ha + eks jalan rel 8 ha + eks jalan sarad 8 ha + tanah kosong 11 ha).
  • Kebutuhan bibit pengayaan 400 btg/ha, penanaman tanah kosong 625 btg/ha dan penanaman kiri-kanan jalan rel 555 btg/ha.
  • Sulaman 20%.

Pengayaan/Rehabilitasi 

Dengan telah diterapkannya prinsip Reduced Impact Logging, maka dampak penebangan terhadap kerusakan tegakan tinggal diharapkan menurun (rendah).  Hasil pengamatan pada areal bekas tebangan 0 tahun menunjukkan bahwa rata-rata ketersediaan permudaan komersial tingkat semai adalah 2,900 anakan per ha atau 52 %, sedangkan untuk pancang 550 pancang per ha atau 65 % dan tingkat tiang adalah 110 atau 75 %. Data tersebut telah memenuhi persyaratan minimal permudaan alami sebanyak 40 % untuk semai, 60 % untuk pancang, 75 % untuk tiang dan 100 % untuk pohon inti.

Dengan demikian pada areal penebangan tidak diperlukan penanaman atau pengayaan, termasuk pada areal bekas jalan sarad.  Pada areal ini selain ketersediaan permudaan alam masih mencukupi untuk regenerasi secara alami, keterbukaan tajuk karena penebangan setelah 2-5 tahun telah tertutup kembali.

Penanaman dan pengayaan perlu dilakukan pada areal bekas tempat pengumpulan kayu (TPn) dan bekas jalan rel. Pada areal tersebut keterbukaan tajuk tergolong tinggi, pada petak tebangan (12.5 ha) paling tidak telah dibuka sekitar 900 m2 secara kompak untuk TPn dan sekitar 625 m2 untuk jalan rel. Areal ini setelah penebangan akan ditinggalkan.

Mengingat keterbukaan tajuk pada areal tersebut cukup luas dan permudaan pohon sudah hilang, maka segera dilakukan penanaman/pengayaan (enrichment planting) secara intensif. Pembukaan tajuk yang terlalu lama mengundang jenis-jenis gulma invasif yang akan mendominasi seperti pandan (Pandanus tectorius) dan palas (Liquala pimula). Jika areal bekas tebangan telah didominasi oleh kedua gulma tersebut maka peluang tumbuh untuk jenis-jenis pohon, apalagi pohon komersial, sangat kecil.  Hal ini dapat diamati kawasan konversi di luar kawasan hutan areal PBPH PT. DRT.  Oleh karena itu dipilih jenis-jenis pohon pioner yang mampu tumbuh di tempat terbuka dan mampu bersaing dengan gulma atau tumbuhan bawah lainnya. Berdasarkan hasil pengamatan pada areal terbuka bekas tebangan jenis-jenis pohon pioner yang mampu tumbuh pada kondisi tersebut adalah:

  1. Meranti rawa (Shorea uliginosa dan teysmanniana)
  2. Simpur (Dillenia excelsa)
  3. Durian Burung (Durio carinatus)
  4. Geronggang (Cratoxylon arborescens)
  5. Balam (Palaquium obovatum)
  6. Pulai (Alstonia scholaris)
  7. Mahang (Macaranga )

Mengingat kondisi tanahnya tergenang air, maka penanaman dilakukan pada musim yang kurang hujan (kemarau), lubang tanam dibuat pada gundukan tanah atau permukaan tanah ditinggikan (jarak tanam bukan suatu keharusan), sehingga anakan yang ditanam tidak tergenang air.

Melalui serangkaian percobaan penanaman untuk jenis-jenis yang tidak tergolong jenis pionir  seperti meranti bunga dan ramin, selain penanaman dilakukan pada musim kemarau dan lubang tanam dibuat pada gundukan, penanaman/pengayaan dapat berhasil tumbuh dengan baik jika  pada saat penanaman di lapangan tanah gambut yang melekat pada akar bibit di polybag tetap dipertahankan (tidak dilepas).

Dalam penanaman diperlukan air sebagai tanda jarak tanam dan tanda anakan hasil penanaman. Selama ini ajir yang digunakan diambil dari anakan atau pohon-pohon kecil yang ada disekitar lokasi penanaman. Meskipun belum ada penelitian yang komprehensif pengambilan pohon atau anakan tingkat pancang untuk ajir dapat mengurangi stok anakan alam.  Oleh karena itu untuk tahun-tahun berikutnya akan dicoba menggunakan pelepah salak hutan (Zalacca conferta) yang cukup melimpah untuk ajir tanaman.  Ajir tersebut paling tidak dapat bertahan selama 6 bulan sampai dilakukan penyulaman dan pemeliharaan. Rencana kegiatan pengayaan/rehabilitasi tahun 2019 – 2028 adalah sebagai berikut :

No. Tahun Pelaksanaan Kode Blok RKT Tahun RKT

Luas

(Ha)

Ket.
1 2019 IX 2018 48
2 2020 I 2019 48
3 2021 II 2020 39
4 2022 III 2021 39
5 2023 IV 2022 39
6 2024 V 2023 39
7 2025 VI 2024 39
8 2026 VII 2025 39
9 2027 VIII 2026 39
10 2028 IX 2027 39
Jumlah 408

Pemeliharaan

Anakan hasil penanaman perlu dilakukan pengecekan dengan penyulaman dan pemeliharaan. Mengingat akses jalan rel merupakan sarana penting untuk penyulaman dan pemeliharaan maka jalan rel yang ada agar dapat dipertahankan paling tidak selama satu tahun. Jika penanaman dapat dilakukan segera setelah tebangan selesai maka masih tersedia waktu paling tidak selama 6 bulan untuk mengecek hasil penanaman untuk dilakukan penyulaman dan pemeliharaan berupa penyiangan dari gulma pengganggu. Diharapkan setelah 6 bulan tanaman dapat bertahan untuk hidup selanjutnya. Rencana kegiatan pemeliharaan tanaman tahun 2019 – 2020 adalah sebagai berikut :

No. Tahun Pelaksanaan Kode Blok RKT Tahun RKT Luas (ha) Ket.
1 2019 IX 2018 48
2 2020 I 2019 48
3 2021 II 2020 39
4 2022 III 2021 39
5 2023 IV 2022 39
6 2024 V 2023 39
7 2025 VI 2024 39
8 2026 VII 2025 39
9 2027 VIII 2026 39
10 2028 IX 2027 39
Jumlah 408
Keterangan :

Kode notasi abjad tidak mencerminkan tata urutan tahun pelaksanaan RKT dan tidak mengikat.

Pengayaan/Rehabilitasi 

Pemeliharaan yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Memantau dan memastikan bahwa pohon inti yang ditinggalkan dapat tumbuh dengan baik .
  2. Penyulaman dan pembebasan gulma pengganggu terhadap anakan pohon yang ditanam. Kegiatan ini dilakukan pada 6 bulan setelah kegiatan penanaman atau paling lambat pada 1 tahun setelah penanaman.
  3. Memperbaiki tanda-tanda di lapangan, seperti nomor pohon, nomor petak, batas petak, papan informasi dan lain-lain.
  4. Adanya aksesibilitas bagi tenaga kerja untuk pemeliharaan. Namun demikian karena biaya pemeliharaan jalan rel sangat besar maka dibuat jalan inspeksi untuk pejalan kaki dan dipelihara secara periodik.  Dengan adanya jalan inspeksi ini kegiatan pemeliharaan masih dapat dilaksanakan dengan baik serta juga diperlukan dalam kegiatan perlindungan dan pengamanan hutan.

Pembebasan Pohon Binaan 

Pembebasan pohon binaan bertujuan untuk membebaskan tajuk pohon binaan dari tumbuhan pesaing agar bisa selalu menerima cahaya matahari langsung dari atas atau samping serta memiliki ruang tumbuh tajuk secukupnya ke atas atau samping.  Dengan pembebasan ini diharapkan riap pohon binaan dapat meningkat. Target pohon binaan bisa berasal dari permudaan alam maupun tanaman pengayaan.

Kegiatan perencanaan pembebasan pohon binaan meliputi penetapan pohon binaan dalam petak kerja, pembebasan pohon binaan dari tumbuhan pesaing, dan pembuatan peta sebaran pohon binaan hasil pembebasan. Rencana jadwal pembebasan pohon binaan di PT. DRT sebagai berikut :

No. Tahun Pelaksanaan Kode Blok RKT Tahun RKT Luas (Ha) Ket.
1 2019 IX 2018 1.700
2 2020 I 2019 1.700
3 2021 II 2020 1.370
4 2022 III 2021 1.300
5 2023 IV 2022 1.338
6 2024 V 2023 1.351
7 2025 VI 2024 1.300
8 2026 VII 2025 1.300
9 2027 VIII 2026 1.300
10 2028 IX 2027 1.300
Jumlah 13.959
Realisasi Pengadaan Bibit
No Jenis 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022
1 Meranti 24.970 btg 30.699 btg 5.000 btg 5.300 btg 11.351btg 9.382 btg 10.210btg 2.744 btg 1.640 btg
2 Durian Burung 6.190 btg 14.703 btg 1.750 btg 2.300 btg 2.520 btg 1.104 btg 767 btg 806 btg 1.633 btg
3 Ramin 2.340 btg 5.630 btg 1.400 btg 1.500 btg 3.765 btg 224 btg 385 btg 552 btg – btg
4 Nyatoh 17.436 btg 15.723 btg 9.056 btg 7.070 btg 6.890 btg 8.104 btg – btg 6.418btg 16.007 btg
5 Pulai 424 btg – btg 50 btg – btg – btg – btg – btg – btg – btg
6 Komersial Lain 19.770 btg 22.596 btg 16.000 btg 22.827 btg 18.525 btg 18.865 btg 22.168 btg 14.676 btg 21.156 btg
Jumlah 71.132 btg 89.351 btg 33.256 btg 38.997 btg 43.051 btg 37.679 btg 33.530 btg 25.196 btg 40.436 btg
Realisasi Kegiatan Pengayaan

RKT

Pengayaan

Tanah Kosong

Kanan-Kiri Jalan
Luas (Ha) Bibit (Btg) Luas (Ha) Bibit (Btg) Luas (Ha)

Bibit (Btg)

2014

48,60 36.450 32,00 24.000 5,00

7.500

2015

101,00 65.000 27,00 11.606 12,00

11.500

2016

28,56 13.709 9,00 6.750 8,55

11.407

2017

30,00 14.400 20,00 15.000 13,65

8.870

2018

20,78 9.037 30,54 20.645 12,00

10.990

2019

36,50 17.336 20,60 12.884 12,00

6.661

2020

34,10 13.702 16,04 10.032 11,00

6.274

2021

20,50 8.200 10,60 6.626 11,20

6.217

2022

24,90 9.960 13,50 8.437 17,55

9.742

TOTAL

344,94 187.794 179,28 115.980 102,95

79.161

 

adminPembinaan Hutan