1. Pentingnya Penelitian dan Pengembangan
Pengelolaan hutan alam produksi lestari (PHAPL) pada prinsipnya adalah upaya untuk dapat memproduksi kayu dalam volume yang lebih besar persatuan luas serta kualitas yang baik untuk menyediakan bahan baku industri pengolahan kayu secara teratur dan berkesinambungan. Untuk mewujudkan upaya ini, maka diperlukan data atau informasi serta berbagai sarana penunjang yang lain dan memadai. Oleh karena itu, langkah penting dalam pengusahaan hutan produksi ini yang harus segera dicanangkan adalah penyiapan paket data atau informasi yang dapat dijadikan pedoman untuk mendukung pengelolaan dan pengusahaan hutan yang intensif. Untuk itu perlu dilakukan penelitian dan pengembangan secara terus-menerus.
PBPH PT. Diamond Raya Timber memiliki areal dengan spesifikasi lahan hutan produksi rawa gambut dan mangrove sebagai buffer. Jenis-jenis pohon yang dimanfaatkan adalah Ramin (Gonystylus bancanus), Meranti rawa (Shorea spp.), Suntai (Palaquium spp.), Durian burung (Durio carinatus), Geronggang (Cratoxylon arborescens) dan Bintangur (Callophyllum inophyllum). Informasi jenis ini memang telah tersedia, namun belum memadai untuk menunjang pengelolaan hutan di areal PBPH ini, karena beberapa informasi berskala penelitian dan bahkan ada aspek yang belum diketahui. Aspek kondisi lingkungan tempat tumbuh (ekofisiologis) dan kehidupan jenis satwa liar yang menghuni habitat (hutan rawa gambut). Aspek lain yang penting untuk dipelajari adalah hubungan pengelolaan hutan terhadap perkembangan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat sekitar hutan dan ketenagakerjaan.
Informasi yang masih berskala kecil atau bahkan belum ada, yang perlu mendapatkan pemecahan dalam menunjang pengelolaan hutan di PBPH PT. Diamond Raya Timber antara lain:
- Pengetahuan dasar dan beberapa aspek serta pengelolaan benih jenis-jenis suku Dipterocarpaceae yang belum dikuasai sepenuhnya apalagi untuk jenis-jenis yang belum dikenal (lesser known species) yang kemungkinan dapat dikembangkan.
- Pemantapan jenis-jenis terpilih untuk kegiatan pembinaan yang akan ditanam, masih perlu didukung dengan data hasil percobaan jenis, kecuali untuk jenis Ramin dan Meranti batu.
- Standarisasi semai untuk keperluan penanaman yang dikaitkan dengan kemampuannya untuk berkompetisi dengan vegetasi lain baik ditinjau dari segi keberhasilan tanaman atau ekonomisnya belum memadai.
- Pencegahan pengendalian hama dan penyakit maupun gangguan lain yang mungkin timbul pada kegiatan pembinaan hutan perlu ditingkatkan.
Untuk memecahkan permasalahan-permasalahan tersebut diatas, maka perlu disusun rencana penelitian dan pengembangan yang didukung dengan tenaga dan biaya yang cukup memadai, agar dalam jangka waktu yang relatif tidak terlalu lama hasilnya sudah dapat dimanfaatkan untuk menunjang kelancaran pengelolaan hutan. Sesuai ketentuan dan kebijakan teknis pengelolaan sumberdaya hutan, aspek penelitian dan pengembangan perlu dilaksanakan terus menerus sepanjang masa pengusahaan.
2. Topik-topik Penelitian dan Pengembangan
Beberapa jenis kegiatan penelitian dan pengembangan yang akan dilaksanakan antara lain adalah menyangkut hal sebagai berikut.
2.1. Aspek Produksi
- Melanjutkan pengamatan PSP untuk mendapatkan data riap tumbuh jenis komersial andalan hutan rawa gambut, pembuatan model pertumbuhan (CAI dan MAI) dalam rangka menetapkan kebijakan teknis pembinaan hutan produksi pada etat tebang berikutnya.
- Mempelajari silvikultur jenis komersial andalan hutan rawa gambut, aspek fenologis, teknis pembibitan, pola tanam, pemeliharaan dan proteksi pertumbuhan. Sudah saatnya pembuatan persemaian yang memadai melalui kebun pangkas, tidak dengan cabutan, untuk menambah stok bibit dan meningkatkan populasi anakan melalui penanaman pada areal terbuka. Jenis-jenis yang dapat dikembangkan antara lain Ramin, Meranti, Suntai, Balam, Pulai, Punak, Terentang, Geronggang dan Durian Burung.
- Melakukan penelitian potensi, penyebaran, fenologi, pemetaan dan regenerasinya untuk jenis Ramin yang telah masuk dalam Appendix II CITES, serta terus melanjutkan usaha-usaha memperbanyak populasinya melalui pengayaan. Sampai dengan awal tahun 2009, hasil penelitian yang telah diperoleh antara lain: (1) regenerasi ramin melalui stek pucuk dan batang; (2) keberhasilan penanaman di lapangan untuk jenis ramin yang bibitnya berasal dari stek pucuk. Uji coba penanaman dapat dikatakan berhasil dengan baik (setelah umur satu tahun rata-rata tanaman telah mencapai tinggi 80 cm).
- Mempelajari sifat fisik dan kimia kayu dari jenis-jenis pohon komersial ditebang dan tidak ditebang yang menunjang proses pemanfaatan kayu dan non kayu yang memiliki peluang dan nilai ekonomis untuk pengusahaan masa mendatang. Tujuannya adalah agar pemanfaatan hasil hutan menjadi lebih optimal.
- Mengidentifikasi faktor-faktor hama/penyakit yang dapat menurunkan kualitas kayu. Tujuannya agar diketahui tindakan preventif yang dapat dilakukan, menentukan kegiatan pengawetan yang dianggap paling tepat sehingga kayu yang dihasilkan senantiasa berkualitas baik sesuai permintaan konsumen.
- Dalam bidang perencanaan hutan telah diakui adanya ketidak-akuratan dalam pengukuran tinggi pohon sehingga berdampak pada ketidak-akuratan dalam menentukan volume/potensi pohon berdiri dalam ITSP. Oleh karena itu harus ditempuh dengan pembuatan tabel volume lokal untuk menaksir volume. Saat ini, UM telah menyusun tabel volume lokal untuk 10 jenis. Perlu dilanjutkan untuk semua jenis pohon ditebang untuk memiliki tabel volume jenis. Tabel tersebut perlu dilakukan uji coba keakuratannya dan perlu dibuat SOP petunjuk penggunaan dalam ITSP. Selain daripada itu, saat ini PT. DRT juga sedang membuat suatu kajian / studi mengenai perbandingan realisasi penebangan (LHP) dengan LHC.
2.2. Aspek Ekologi
- Melakukan inventarisasi secara komprehensif keberadaan satwa liar khususnya satwa dilindungi: pengukuran populasi, penyebaran, perilaku, interaksinya dengan pohon dan tumbuhan sebagai sumber pakan dan tempat tinggal (habitat) sehingga dapat ditentukan rencana tindak lanjut (action plan) untuk pengelolaannya.
- Mempelajari kondisi hidrologi kawasan terhadap dinamika biologis dan ekofisiologis lingkungan dan pertumbuhan sumberdaya tumbuhan hutan rawa gambut dan mangrove. Dengan harapan diperolehnya data serta informasi lapang hubungan tata air terhadap dinamika pertumbuhan tegakan hutan.
- Mempelajari pengaruh kegiatan penebangan setiap tahunnya terhadap kualitas air di sekitar hutan. Dengan harapan dapat diketahui sejauh mana kegiatan penebangan berpengaruh terhadap kualitas air, apakah masih diambang toleransi atau mengakibatkan dampak yang merugikan lingkungan perairan.
- Penelitian di bidang perlindungan hutan pada dasarnya diarahkan kepada usaha-usaha pencegahan/penanggulangan terhadap timbulnya gangguan yang berasal dari kebakaran, penebangan liar dan perambahan hutan. Efektifitas patroli terhadap pencegahan dan penanggulangan gangguan hutan.
2.3. Aspek Sosial Ekonomi
- Hubungan pengelolaan kawasan hutan rawa gambut terhadap perkembangan taraf hidup masyarakat sekitar hutan. Dengan harapan dapat diperoleh data serta informasi lapang menyangkut kultur sosial-budaya dan kinerja masyarakat, sebagai dasar acuan penerapan pola pembinaan kehidupan sosial-ekonomi (peluang dan kesempatan kerja serta peningkatan pendapatan ).
- Pengembangan serta pengujian diversitas produksi hasil hutan kayu dan non kayu serta pemanfaatan limbah. Dengan harapan dapat diciptakan peluang dan kesempatan kerja yang berdampak positif terhadap pendapatan masyarakat sekitar hutan (misalnya getah meranti, palas, buah salak hutan, kulit medang lendir, sayuran arang, tanaman hias dll.). Perlu pengkajian aspek pemasaran, permodalan dan pembinaan SDM.
- Hubungan pengembangan sarana dan prasarana sosial-ekonomi, terhadap perkembangan tingkat dan taraf hidup masyarakat sekitar hutan. Diharapkan dapat diperoleh data dan informasi yang dapat berperan dalam merubah pola pikir ke arah modernisasi kehidupan.
- Hubungan pembinaan sumberdaya masyarakat terhadap perkembangan angkatan kerja melalui transfer ilmu dan teknologi tepat guna (pelatihan). Diharapkan diperoleh sistem dan pola pendidikan dan latihan yang tepat, sebagai dasar acuan dalam menetapkan kebijakan teknis dalam memanfaatkan dan mengembangkan kesempatan kerja masyarakat sekitar hutan.
- Pengkajian terhadap pemberian beasiswa, pendidikan lingkungan usia anak sekolah dan kunjungan anak usia sekolah ke kawasan hutan untuk melihat bagaimana pengelolaan hutan secara lestari dipraktekkan di lapangan.
- Melakukan kajian terhadap kualitas air gambut sebagai sumber air minum, misalnya melalui penjernihan dan penambahan kandungan mineral air minum bagi karyawan dan masyarakat sekitar.
2.4. Aspek Sosial Ekonomi
- Melakukan kajian tentang sistem rekrutmen pegawai melalui mekanisme yang jelas dan transparan sehingga diperoleh karyawan yang berkualitas tinggi.
- Penelitian tentang prestasi kerja. Angka atau besaran tentang prestasi kerja merupakan dasar penentu atau tolak ukur dalam merencanakan jumlah, waktu dan biaya penyelesaian suatu kegiatan. Oleh karena itu, informasi tentang hal ini sangat perlu dimiliki sehingga penelitian ke arah hal tersebut mutlak harus dilakukan.
- Melakukan kajian tentang sistem dan besarnya upah yang diterima karyawan. Salah satu motivasi untuk bekerja dengan baik ialah gaji/upah yang tinggi dalam waktu yang relatif cepat. Motivasi ini dapat diimbangi dengan penggunaan cara pengupahan yang sesuai disamping besarnya upah yang memadai. Dengan demikian maka arah penelitian yang dilakukan adalah menentukan sistem dan besarnya upah untuk setiap kegiatan dalam rangka pengusahaan hutan dan hasilnya berupa kebijakan yang berkaitan dengan masalah yang telah diuraikan diatas.
- Pengkajian terhadap sistem karier dan penjenjangan. Kemantapan tenaga kerja, kuantitas cukup, keterampilan memadai dan betah bekerja/berkesinambungan, akan sangat mendukung dalam mewujudkan keberhasilan pengusahaan hutan. Untuk hal ini, maka arah penelitian yang dilakukan ialah menentukan sistem karier, penjenjangan dan tingkat/golongan penggajian termasuk sistem pemutusan hubungan kerja. Dengan seringnya karyawan berganti-ganti terutama pada level manajer dan supervisi sangat mengganggu kelancaran pelaksanaan PHAPL. Hal ini perlu menjadi perhatian dari UM terutama pada aspek kesejahteraan karyawan.
3. Status dan Mekanisme Pelaksanaan Penelitian
Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa penelitian ini dilakukan sebagai koreksi terhadap data/ informasi dan kebijaksanaan yang telah ada. Di samping itu, pelaksanaan penelitian yang direncanakan dapat dilakukan secara mandiri terutama bagi penelitian yang bersifat sederhana, praktis dan bukan merupakan penentuan kebijaksanaan. Macam penelitian menurut pengelompokan tersebut dapat dirinci sebagai berikut:
- Penelitian jangka pendek, yang berjangka waktu 2 – 3 tahun, seperti: pengadaan sarana/prasarana aspek ketenagakerjaan.
- Penelitian jangka menengah, yang berjangka waktu 5 – 10 tahun, yang merupakan koreksi terhadap data / informasi yang diperlukan untuk penyusunan RKUPH (riap, tabel volume, tata batas).
- Penelitian jangka panjang, yang berjangka waktu 10 – 20 tahun. Penelitian ini biasanya berkaitan dengan kelestarian produksi selama jangka pengusahaan (seperti data PSP, persemaian, penanaman, pengukuran subsiden, dan pemantauan lingkungan).
4. Tenaga dan Biaya
Penelitian merupakan kegiatan yang bersifat rutin, sehingga tenaga penelitian harus diangkat sebagai tenaga tetap dalam unit PBPH. Adapun rincian dari jenis dan jumlah tenaga bidang penelitian yang diperlukan adalah sebagai berikut:
- Supervisor penelitian dan pengembangan dengan latar belakang pendidikan sarjana kehutanan.
- Staf penelitian, jumlah masing-masing 1 (satu) orang untuk bidang-bidang pembinaan hutan, perencanaan hutan dan pemanenan hasil hutan.
Biaya yang dibutuhkan dalam setiap bentuk penelitian diperhitungkan berdasarkan standar upah dan harga yang berlaku di sekitar areal PBPH, serta dengan memperhatikan pula faktor-faktor sosial ekonomi masyarakat sebagai kendalinya.
5. Administrasi Penelitian dan Publikasi
Mengingat bidang adminsitrasi dan publikasi sifatnya jangka panjang maka semua data/informasi harus dihimpun dengan rapi dan didokumentasikan secara terperinci menurut aspeknya. Penggunaan teknologi, misalnya komputer dalam hal ini akan mendukung upaya penyimpanan data/informasi hasil penelitian yang telah dilakukan.
Bagaimanapun bagusnya data dan informasi yang diperoleh dalam penelitian tidak ada artinya jika tidak diinformasikan kepada pihak-pihak lain terutama pihak pengguna/pengambil kebijakan dan para stakeholder terkait. Oleh karena itu perlu dipublikasikan baik secara internal dalam bentuk lembaran bulanan atau dipublikasikan secara nasional dalam jurnal ilmiah maupun ilmiah populer.
